Selasa, 02 Oktober 2012

Resensi kumpulan cerpen

Resensi Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian
karya: Nugroho Notosusanto

1.      Judul resensi                           : Hujan Kepagian
2.      Nama pengarang                    : Prof. Dr.Nugroho Notosusanto
3.      Tempat dan tgl lahir               : Rembang, 15 Juni 1931
4.      Pendidikan                              : - Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1960)
-Metode Sejarah dan Filsafat Sejarah di University of London (1961-1962)
-Mencapai gelar Doktor Ilmu-ilmu Sastra (bidang Sejarah) Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1977)
5.   Penerbit                                 : Balai Pustaka
6.   Jumlah halaman                    : 67 halaman
7.   Tahun terbit                           : 1995
           







Resensi kumpulan cerpen “Hujan Kepagian”, karya Nugroho Notosusanto

            Kumpulan cerpen Hujan Kepagian terdiri dari 6 cerita, cerpen ini merupakan kesaksian tentang revolusi kemerdekaan. Tidak banyak karya sastra yang menampilkan kisah-kisah di sekitar revolusi itu, yang dialami sendiri oleh pengarangnya. Hal itu membuat kumpulan cerpen ini sangat penting. Perang di sini tidak hanya dilihat dari sudut peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan tindakan-tindakan serba heroik para pelakunya, namun dilihat dari isinya yang lebih manusiawi. Pengarangnya sendiri terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan itu sebagai anggota tentara pelajar.
            Cerita pertama misalnya, yang berjudul “Senyum”, mengenai ketetapan diri untuk maju ke medan pertempuran, sekalipun orang tuanya lebih menyukai dia melanjutkan pelajaran, karena umurnya masih 14 tahun, selama ia berada di medan pertempuran ia selalu ingat akan bangku sekolah. Ia juga terkenang kepada ayahnya yang ditinggalkan tanpa minta izin. Di bukit ia bertemu dengan bocah kecil yang mengingatkannya pada adiknya yang telah bersekolah. Pengalaman selama revolusi saat menarik untuk di baca. Ini terbukti dengan si John temannya yang gugur dalam medan pertempuran, dimana wajahnya tersenyum, padahal biasanya mayat para pejuang yang ditemukan kebanyakan wajahnya menyeringai atau matanya terbelalak, karena kesakitan. Ini menunjukkan bahwa perjuangan si John untuk membela negara ini dengan hati yang suci.
            Cerpen kedua yang berjudul “Konyol”, menceritakan tentang takhayul yang baik, yaitu “untuk berjuang harus secara suci dan selama berjuang tidak boleh berbuat mesum, dan harus mampu menahan nafsu seksual. Barangsiapa yang tidak suci perjuangannya, ia akan mati konyol.
Misalnya dalam cerita ini ada pejuang yang memerkosa akhirnya dia mati konyol. Padahal hal itu sudah dinasihati oleh Pak Godek.
            Cerpen ketiga, yang berjudul “Pembalasan Dendam” menceritakan tentang anak kembar yang bernama Jon dan Con, mereka berdua ikut berperang, mereka sangat berani dan kompak dalam berjuang. Di tengah medan perang, Jon gugur. Atas gugurnya si Jon, si Con membalas dendam terhadap semua musuh, seperti si Belanda. Con tidak memberi ampun kepada si Belanda walaupun telah berteriak-teriak minta ampun.
Cerpen keempat, yang berjudul “Perawan di Garis Depan”, adalah cerpen yang sangat menarik sekali, karena seorang perawan ikut berjuang. Si perawan atau si gadis itu berperangai seperti laki-laki, baik pakaiannya ataupun cara pandangnya. Semua laki-laki seperjuangannya saat segan kepadanya. Si perempuan itu ikut berjuang karena kesengsaraan hidup yang dialaminya, yaitu saudaranya meninggal karena perang, ibunya meninggal karena dibakar, dan diapun kehilangan kesuciannya karena diperkosa oleh Belanda. Oelh karena itu, setiap berperang dia selalu yang paling berani.
Cerpen kelima, yang berjudul “Bayi”, cerpen ini sangat unik sekali, dimana disaat perang 2 orang yang bermusuhan bisa berdamai, bisa melakukan suatu kebaikan, sama-sama menyelamatkan seorang ibu yang melahirkan seorang bayi.
Cerpen keenam, yang berjudul “Eksekusi”, adalah cerpen yang sangat sadis, dimana telah terjadi eksekusi terhadap seorang perampok/pembunuh bangsa sendiri. Mengapa perampok/pembunuh tersebut harus dieksekusi? Perampok/pembunuh itu dieksekusi karena dia merampok rakyat yang sudah menderita, dan   sudah ditimpa perang. Perampok/pembunuh itu lalu ditangkap dan dieksekusi karena ulahnya telah mengganggu pertahanan tentara dalam berjuang melawan Belanda.
 Pengalaman-pengalaman selama revolusi ini sangat mwnarik untuk dibaca. Pengarang memaparkannya dengan sederhana, tapi memikat. Hal yang perlu kita petik dan kita renungkan, dari kumpulan cerpen ini adalah hendaklah kita berjuang dengan hati yang suci untuk mempertahankan kehidupan kita, bernegara dan berbangsa.
·         Unsur- unsur intrinsik Cerpen “Senyum”
a.    Tema :
Penilaian 
Perbandingan dengan zaman sekarang
Perjuangan yang tulus untuk mempertahankan negara dan bangsa
1.    Dahulu orang berjuang sangatlah tulus dan iklas. Para pejuang rela berkorban sampai tetes darah penghabisan tanpa mengharapkan imbalan jasa, pangkat ataupun kehormatan. Bagi mereka para pejuang, ikut berjuang berarti berbakti pada negara.
2.    Menjadi pejuang tidak harus bersekolah, berani berjuang itulah hal yang sangat diperlukan.
1.   Sekarang orang berjuang mengharapkan imbalan jasa (materi). Demikian juga pangkat dan gelar serta kehormatan.





2.   Menjadi pejuang harus bersekolah terlebih dahulu.
b.    Tokoh dan penokohan:


v Aku

Berani, penyayang, rela berkorban demi bangsa dan negara.
Zaman sekarang semakin sedikit ditemukan manusia yang rela berkorban apalagi demi bangsa dan negara.
v Jono
Berani, pantang menyerah, penyayang
Zaman sekarang, semakin sedikt manusia yang pantang menyerah dalam menghadapi arus kehidupan.
v Bocah
Polos, lucu

c.    Sudut pandang
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut

d.    Alur:
Mundur, karena kembali mengisahkan temannya yang meninggal ketika perang dengan wajah tersenyum.

e.    Latar:
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Di sebuah Desa
Pada zaman peperangan melawan Belanda
Suasana perang, bersemangat dan pantang menyerah

f.     Amanat :
1.     Kita sebagai generasi muda tidak pantang menyerah, pada situasi tersulit sekalipun.
2.     Mau berjuang secara tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.
3.     Menghargai jasa-jasa para pahlawan, dan berupaya mempertahankan kemerdekaan. Dengan cara belajar dengan baik.

g.    Kelemahan:




Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    Kelebihan:
1.     Mampu membangkitkan semangat kita dan keberanian kita untuk ikut berjuang.
2.     Menggambarkan peristiwa pada saat berperang dengan apik, sehingga para pembaca dengan mudah bisa membayangkannya dan terikut ke dalam peristiwa tersebut.





·         Unsur-unsur intrinsik  Cerpen “Konyol”
a.    Tema:
Penilaian
Perbandingan
Perjuangan yang suci
Dahulu ada istilah akan mati konyol bila saat berjuang melakukan hal-hal yang melanggar norma. Seperti memerkosa atau berbuat mesum.
Sekarang, banyak para pejuang tidak lagi berjuang dengan suci, misalnya seperti aparat negara ada yang melanggar norma ataupun membuat huru-hara/kekerasan.
b.    Tokoh dan penokohan:


·      Aku (Nug)



Baik, disiplin, taat.



Zaman sekarang, sudah semakin sedikit orang yang taat serta disiplin terhadap peraturan ataupun sesuatu hal.
·      Komandan sector Dik
Tidak mudah percaya, berpikiran mesum,
Zaman sekarang banyak pemuda yang sering berpikiran mesum dan tidak taat pada peraturan, sehingga pada akhirnya mereka sendiri yang terkena sialnya.
·      Titi
Ramah, mudah tergoda.
Remaja putri sekarang semakin cenderung mudah digoda oleh pria lain.
c.    Sudut pandang
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut

d.    Alur
Maju

e.    Latar:
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Pos Komando Sektor
Pada zaman peperangan melawan Belanda
Kacau saat perang

f.     Amanat :
1.    Hendaklah kita bisa menahan nafsu, terutama nafsu seksual kita.
2.    Kita harus taat terhadap peraturan, dan taat akan perintah yang baik oleh atasan kita.

g.    Kelemahan :




Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    Kelebihan:
1.    Memberikan teladan yang baik untuk kita sebagai generasi muda untuk bisa mengontrol hawa nafsu.
2.      Menampilkan jalan cerita yang mudah dicerna oleh pembaca.




·         Unsur-unsur intrinsik  Cerpen “Pembalasan Dendam”
a.    Tema:
Penilaian
Perbandingan
Pembalasan dendam
Membalas dendam adalah hal yang tidak boleh dilakukan, sekalipun demi saudara kembar, dan ketika hal itu tidak jadi dilakukan adalah perbuatan yang mulia.
Zaman sekarang, banyak orang yang tidak bisa lagi memendam amarahnya, sehingga balas dendam seringkali terjadi.
b.    Tokoh dan penokohan:


·      Aku (Nug)
Baik, bijaksana, berpikir positif
Banyak remaja sekarang ketika diliputi perasaan ingin balas dendam, mereka takkan bisa mengontrol dan berpikir positif.
·      Con
Banyak pikir, banyak timbang, terlalu banyak perhitungan, baik, bisa menahan dendamnya, pemaaf.
Zaman sekarang tidak banyak lagi manusia yang bisa menahan dendamnya kemudian memafkan atau membebaskannya.
·      Jon
Kawan yang setia, tegas, cepat memutuskan dan menindakkan, impulsif dan penuh aktivitas.
Tidak banyak lagi ditemui teman yang setia, tegas dan bisa memimpin.
c.    Sudut pandang
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut

d.    Alur
Maju

e.    Latar:
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Daerah patrol
Pada zaman peperangan melawan Belanda
Suasana penuh amarah dan nafsu balas dendam

f.     Amanat :


1.   Hendaklah kita bisa menahan dendam atau amarah yang timbul, karena balas dendam hanya akan menambah dosa kita.
2.  Kita harus selalu bisa berpikir positif dalam menanggapi masalah

g.    Kelemahan :




Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    Kelebihan:
1.                 Menampilkan bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik.
2.                 Pengarang menampilkan drama balas dendam yang apik sehingga memudahkan pembaca mengikuti jalan ceritanya.




·         Unsur-unsur intrinsik Cerpen “Perawan di Garis Depan”
Tema:
Penilaian
Perbandingan
a.    Mengorbankan kehormatan
Kehormatan bagi seorang gadis adalah keperawanan. Mengorbankan keperawanannya supaya korbannya sempurna menurut dia.
Zaman sekarang banyak remaja putri yang kehilangan keperawanannya dengan alasan yang tak logis.
b.    Tokoh dan penokohan


·      Aku (Nug)
Baik, pemberani

·      Kawan
Baik, tidak berpikir mesum.
Banyak remaja sekarang yang sulit untuk mengontrol nafsunya agar tidak berpikir mesum.
·      perempuan
Berani, nekat, penyendiri, rela berkorban, penuh dendam.
Zaman sekarang sedikit perempuan yang berani malah ikut berperang serta rela berkorban.
c.    Sudut pandang:
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut.

d.    Alur:
Maju

e.    Latar
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Lini-2
Pada zaman peperangan melawan Belanda
Keheranan dan mengharukan

f.     Amanat :
1.    Berjuang memerlukan pengorbanan, namun hendaknya setiap perempuan tidak sampai harus mengorbankan keperawanannya sendiri.
2.    Hendaknya para pemuda menghormati perempuan-perempuan dan bukan malah memerkosanya.

g.    Kelemahan:



Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    kelebihan:
1.   mendeskripsikan peristiwa yang apik.
2.   Menggunakan setiap kata yang mudah dicerna.




·         Unsur-unsur intrinsik Cerpen “Bayi”
a.    Tema:
Penilaian
Perbandingan
Keikhlasan hati untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan
Panggilan untuk menolong yang membutuhkan pertolongan tanpa pamrih, tanpa mengenal kawan atau lawan, yaitu menolong lahirnya seorang bayi.
Zaman sekarang kalau mau menolong apalagi kelahiran seorang bayi pasti dengan perkiraan/perhitungan biaya/uang/materi.
b.    Tokoh dan penokohan:


·      Aku
Seorang pejuang Indonesia yang baik dan berani.
Kalau sekarang pejuang tugasnya hanya berjuang memegang senjata.
·      Si Belanda
Seorang Belanda yang baik, mau menolong musuh.
Kalau sekarang musuh tetap musuh.
·      Mbok Simin
Wanita yang lemah yang melahirkan seorang bayi.
Kalau sekarang wanita yang melahirkan banyak yang menolongnya.
c.    Sudut pandang:
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut

d.    Alur
maju

e.    Latar
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Di sebuah desa
Pada zaman peperangan melawan Belanda
Peperangan

f.     Amanat:
1.     Agar kita mau menolong orang lain tanpa memperhitungkan kawan atau lawan dan RAS.
2.     Dengan bekerja sama masalah akan cepat terselesaikan.

g.    Kelemahan:


Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    Kelebihan:
Ceritanya sungguh menarik karena di masa perang masih ada rasa kasihan kepada orang lain sekalipun itu musuhnya. Berarti dari sini kita ketahui bahwa tidak semua orang Belanda itu jahat dan kejam.




·         Unsur-unsur intrinsik Cerpen “Eksekusi”
a.    Tema:
Penilaian
Perbandingan
Mengeksekusi si serakah
Pada masa perang pejuang tidak hanya melawan Belanda tetapi juga melawan bangsa sendiri yang ikut menyengsarakan rakyat sendiri dengan cara merampok dan membunuh bangsa sendiri.
Zaman sekarang, keserakahan itu tetap terjadi yaitu adanya pemimpin yang bukan mengayomi rakyat tetapi justru membuat sengsara rakyat dengan cara KKN.

b.    Tokoh dan penokohan:


·      Aku
Seorang pejuang yang baik

·      Perampok
Seorang yang kejam, jahat, pembunuh

·      Kepala regu
Seorang yang tegas

c.    Sudut pandang
Orang pertama pelaku utama cerita, sebab yang bercerita terlibat dalam cerita tersebut

d.    Alur
Maju

e.    Latar
·      Latar tempat
·      Latar waktu
·      Latar suasana

Markas pengadilan militer
Pada zaman peperangan melawan Belanda
menegangkan

f.     amanat
1.      Agar kita kalau berjuang, berjuanglah dengan benar.
2.      Janganlah kita mendulang di air keruh, yaitu menyiksa orang yang sudah melarat.

g.    Kelemahan:


Solusi:
Bahasanya agak sulit dimengerti, sebab banyak istilah-istilah yang pada zaman sekarang tidak ditemui lagi istilah tersebut.
Sebaiknya pengarang membuat arti istilah tersebut atau catatan kaki.

h.    kelebihan
Ceritanya sungguh menarik dan menegangkan, karena orang yang bersalah dieksekusi.



Kesimpulan : Buku kumpulan cerpen “Hujan Kepagian” ini cukup menarik untuk dibaca, karena buku ini merupakan kesaksian tentang revolusi kemerdekaan. Dan tidak banyak karya sastra yang menampilkan kisah-kisah di sekitar revolusi yang dialami oleh pengarangnya sendiri. Selain itu, cerita-cerita yang terdapat di buku ini memilliki amanat yang mengajak kita generasi muda untuk tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dan selalu berbuat baik.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar